Minggu, 19 April 2020

Ya Rabb, Aku Lelah Jadi Ghuroba




Aku terlambat tau, terlambat merasakan.
Satu sisi aku menyesal.
Satu sisi aku bersyukur.
Dikenalkan dengan jalan ini dahulu, lebih dulu daripada jalan orang kebanyakan.
Ya, aku baru merasa ghuroba, asing
Setelah mencicipi jalan orang – orang biasa.
Indah? Sangat. Bahagia? Ya, aku akui.
Meski logika masih memilih ghuroba sebagai jalan yang baik, yang lebih baik.
Namun hati, namun nafsu. Ah, aku ingin jadi biasa.
Aku sering lelah jadi ghuroba.
Jadi orang (yang dianggap) baik.
Meski seringkali aku tertatih memenuhi perspektif manusia, bahwa aku baik.
Karena ada dari sisiku yang inginkan dunia, ingnkan hidup bahagia seperti orang biasa.
Soal cinta, soal asmara, soal teman, soal cita rasa kehidupan, juga pandangan dan kebiasaan orang – orang biasa.

Namun baiknya Tuhan.
Dia kenalkan aku jalan orang – orang asing lebih dulu. Hingga Dia mengujiku, sekaligus mengenalkanku pada dunia.
Dia menguji dengan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Lalu gejolak dengan logika membuatku harus patah.
Ya, aku yang memilih patah. Jadi tak adil menyalahkan siapa – siapa.
Ternyata aku lebih memilih jalan asing yang sejak dulu ku lewati, yang sebenarnya menjadi jati diri.
Aku sadar, nyaman yang menghampiri tak melulu benar, tak melulu harus di ikuti.
Du ujung lelah bertengkr dengan dir sendiri,
Dunia berbisik lembut “ sudah, kita jadi diri sendiri saja. Jangan terlalu dengarkan manusia. Tanyakan maunya hatimu, jangan di pungkiri”
Sesaat aku nyaman, merasa aman dan akan baik saja, tak berjalan sendirian, meski terus melawan prinsip kehidupan.
Aku nyaman di dekapan, di pelukan dunia, bergantung padanya, benar – benar percaya sepenuhnya.
Buta kalau sedang ditipu nafsu, disuguhi madu padahal racun, di tampakkan bunga padahal api membara.

Dan lagi, baiknya Tuhan.
Meski berulang aku menjauh, berdalih ingin jadi biasa dan tak asing lagi.
Meski berulang Dia memberi isyarat, aku yg sadar namun pura – pura tak dengar.
Hingga Dia sendiri yang jauhkan.
Ya, kini, entah keberapa kali, aku memang memilih untuk kembali ke jalan orang asing.
Tetap jadi diriku? Bukankah ini aku yg sebenarnya? Asing.
Ya, aku pernah lelah dan jenuh jadi ghuroba
Namun, nurani ternyata tak mampu berdusta, kepada siapa, kepada apa aku kembali.
Tuhan, izinkan aku tetap jadi orang asing, agar selalu dekat denganMu.
Banyak rintangan menujuMu
Aku yg sering tidak nurut peta yang Kau beri
Banyak perjuangan menujuMu, aku yg sering kalah oleh nafsu
Tuntun aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar