Aku
terlambat tau, terlambat merasakan.
Satu
sisi aku menyesal.
Satu
sisi aku bersyukur.
Dikenalkan
dengan jalan ini dahulu, lebih dulu daripada jalan orang kebanyakan.
Ya,
aku baru merasa ghuroba, asing
Setelah
mencicipi jalan orang – orang biasa.
Indah?
Sangat. Bahagia? Ya, aku akui.
Meski
logika masih memilih ghuroba sebagai jalan yang baik, yang lebih baik.
Namun
hati, namun nafsu. Ah, aku ingin jadi biasa.
Aku
sering lelah jadi ghuroba.
Jadi
orang (yang dianggap) baik.
Meski
seringkali aku tertatih memenuhi perspektif manusia, bahwa aku baik.
Karena
ada dari sisiku yang inginkan dunia, ingnkan hidup bahagia seperti orang biasa.
Soal
cinta, soal asmara, soal teman, soal cita rasa kehidupan, juga pandangan dan
kebiasaan orang – orang biasa.
Namun
baiknya Tuhan.
Dia
kenalkan aku jalan orang – orang asing lebih dulu. Hingga Dia mengujiku,
sekaligus mengenalkanku pada dunia.
Dia
menguji dengan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Lalu
gejolak dengan logika membuatku harus patah.
Ya,
aku yang memilih patah. Jadi tak adil menyalahkan siapa – siapa.
Ternyata
aku lebih memilih jalan asing yang sejak dulu ku lewati, yang sebenarnya
menjadi jati diri.
Aku
sadar, nyaman yang menghampiri tak melulu benar, tak melulu harus di ikuti.
Du
ujung lelah bertengkr dengan dir sendiri,
Dunia
berbisik lembut “ sudah, kita jadi diri sendiri saja. Jangan terlalu dengarkan
manusia. Tanyakan maunya hatimu, jangan di pungkiri”
Sesaat
aku nyaman, merasa aman dan akan baik saja, tak berjalan sendirian, meski terus
melawan prinsip kehidupan.
Aku
nyaman di dekapan, di pelukan dunia, bergantung padanya, benar – benar percaya
sepenuhnya.
Buta
kalau sedang ditipu nafsu, disuguhi madu padahal racun, di tampakkan bunga
padahal api membara.
Dan lagi, baiknya Tuhan.
Meski
berulang aku menjauh, berdalih ingin jadi biasa dan tak asing lagi.
Meski
berulang Dia memberi isyarat, aku yg sadar namun pura – pura tak dengar.
Hingga
Dia sendiri yang jauhkan.
Ya,
kini, entah keberapa kali, aku memang memilih untuk kembali ke jalan orang
asing.
Tetap
jadi diriku? Bukankah ini aku yg sebenarnya? Asing.
Ya,
aku pernah lelah dan jenuh jadi ghuroba
Namun,
nurani ternyata tak mampu berdusta, kepada siapa, kepada apa aku kembali.
Tuhan,
izinkan aku tetap jadi orang asing, agar selalu dekat denganMu.
Banyak
rintangan menujuMu
Aku
yg sering tidak nurut peta yang Kau beri
Banyak
perjuangan menujuMu, aku yg sering kalah oleh nafsu
Tuntun
aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar