Tentang mimpi. Kali ini aku ingin bercerita tentang mimpi.
Mimpiku yang ternyata masih tumbuh dalam jiwaku. Kukira mimpi itu telah
melayang jauh. Kukira semua telah kuterima adanya. Kukira aku telah mampu
mengikhlaskan segala kenyataan. Namun, kuncup yang kering sebelum berkembang
pun menyimpan harapan besar untuk mekar menjadi pesona yang memikat alam.
Berharap tangis hujan dapat menjadi alasan baginya untuk kembali segar.
Berharap kumbang berkenan menghisap nektarnya yang telah kerontang.
Ini bukan soal cinta, bukan pula cita. Aku lebih suka
menyebutnya sebagai mimpi. Karena mimpi punya tingkat khayal lebih tinggi.
Walau mungkin masih khayal dan hanya akan jadi khayal bagiku. Kata – kataku
memang agak lebay. Terlalu lebay untuk mimpi yang tak sepadan. Aku hanya ingin
bercerita tentang mimpiku. Namun patahan narasi ini sulit kujelaskan. Menjadi
dewasa adalah keniscayaan. Menerima keadaan dan takdir tuhan memang keharusan.
Tapi manusia pun punya angan, mimpi yang ingin digapai.
Terlahir di keluarga penuh kehangatan tak lantas membuat
semua berjalan dengan lancar. Karena untuk menggenggam mutiara di dasar lautan
pun harus berani tenggelam. Mustahil menempuh jalan rata, lurus, dan datar,
tanpa ada gelombang, kelokan dan sesekali berguncang. Begitupun keluarga yang
dibangun oleh dua insan. Ayah dan ibuku. Dengan segala kepelikan di awal
pernikahan, sampai kini tiba saat jemariku berdansa dengan penaku menuliskan
narasi yang payah ini, semua melewati perjuangan. Mendidik kami dengan manhaj
islam, tak membuat kami begitu saja paham dan sadar akan makna kehidupan.
Ah sudah, muqoddimahku terlalu panjang. Langsung saja kumulai.
Setelah sekian lama kupendam, sekarang tiba saatnya kuakui bahwa aku memang
belum ikhlas terhadap kenyataan. Sulit untuk tidak menyesali keputusanku yang
telah berlalu. Tak pernah terbesit sebelumnya di benakku mempunyai mimpi
menjadi seorang hafidzah, berkuliah dan menempuh pendidikan islam di luar negeri.
Membayangkan hidup di negeri yang menjadi saksi sejarah kehidupan para Nabi. Al
Azhar, Turki, Qarawiyyin, Saudi, Umm Al Qura, dan segala anek – aneknya. Ya,
semua memang tak pernah terlintas di benakku saat aku belum paham akan makna
eksistensi ku di planet bernama bumi ini. Namun semua berubah sejak dunia api
menyerang. Oh! Aku salah, maksudku....sejak aku tak mampu membendung hidayah
yang datang. Sejak saat itu, semua arahan, pandangan, tujan, visi dan prinsip
hidupku berubah haluan.
Aku tak bisa memungkiri lagi bahwa kini aku jatuh cinta
dengan segala bau yang seharum jazirah Arab, ilmu – ilmu islam, dan antek –
antek besarnya. Semua itu kini mampu mendesign mimpi – mimpi ku. Dan membuatku
tak sabar, gelisah, merasa terdesak untuk secepatnya bisa kuliah di Timur
Tengah, menjadi penghapal al Qur’an, berada dalam lingkaran dan lingkungan yang
senantiasa mengAgungkan-Nya. Semua mimpi itu telah terdesign rapi di benakku.
Namun, berlatar belakang pendidikan konvensional yang
terlanjur aku jalani sebelum aku berhijrah, mempersempit peluangku untuk
menggapai segala imipian yang hanya khayal itu. Sampai saat ini aku masih
berusaha untuk menyentuh pinggiran dan tepiannya. Walau kudapati diriku duduk
manis di dalam kelas, mendengarkan dosen menjelaskan teori – teori ilmuan barat
tentang uang, perekonomian, bisnis konvensional dan sejenisnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar